KELEBIHANDAN KEKURANGAN. Kelebihan: adalah tokoh yang sudah dikenal luas oleh masyarakat sehingga penonton mengharapkan adanya kemiripan fisik antara Habibie versi film dengan Habibie yang sebenarnya. Tio Pakusadewo yang hadir sekilas memerankan sosok pak Harto juga kurang pas gesture-nya, menurut saya hanya rambut belakangnya saja yang
Dalamfilm Habibie & Ainun 3, diangkat dari kisah nyata perjalanan cinta seorang Rudy Habibie dan Ainun Besari yang merupakan tokoh utama dalam film ini. Tidak seperti 2 film sebelumnya yaitu Habibie & Ainun 1 maupun Habibie & Ainun 2, film ini justru lebih banyak menceritakan bahkan hanya terfokuskan kepada sosok ibu Ainun dan perjalanannya
KelebihanDan Kekurangan Film Rudy Habibie. Film cerita panjang pertamanya untuk bioskop sebagai sutradara, habibie & ainun (2012), bukan hanya berhasil secara teknis dan estetika tetapi juga mendulang sukses komersial yang luar biasa. Rudy habibie (habibie & ainun 2) merupakan film "prekuel" dari habibie & ainun (2012) yang sangat sukses
Mengadukemosi. Rudy saat bersama Ilona. (Foto: Youtube) Demikianlah sepenggal kisah cinta dua sosok insan bernama Rudy dan Ilona, yang saya saksikan dalam film Rudy Habibie. Sungguh begitu mengaduk emosi saya, bahkan sempat terharu dibuatnya. Kemampuan akting dari Reza Rahadian sebagai Rudy Habibie, juga Chelsea Islan sebagai Ilona Ianovska
JAKARTA Setelah sukses dengan film pertamanya Habibie Ainun, MD Pictures merilis film Rudy Habibie. Sekuel kedua film yang diangkat dari kisah hidup presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie ini digarap oleh sutradara Hanung Bramantyo. Sedangkan naskahnya ditulis oleh Gina S Noer yang pernah menggarap film Dua Garis Biru (2019
Kelebihanfilm Habibie & Ainun 3 ini adalah dapat membawa penonton merasa untuk lebih mencintai tanah air dan menginspirasi banyak orang bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan dengan kerja keras kita dapat meraih kesuksesan. Selain itu ketika ditampilkan adegan saat Ibu Ainun membantu terhadap rakyat kecil mengunggah perasaan penonton dengan
a4Yhoo. Sinopsis Rudy Habibie – Mendengar nama Rudy Habibie, kamu pasti langsung mengingat tokoh luar biasa Indonesia yaitu Pak BJ Habibie. Film Rudy Habibie memang film Indonesia yang mengangkat kisah biografi dari Pak Habibie. Sewaktu muda, Pak Habibie dipanggil dengan nama Rudy. Film ini bercerita tentang masa perkuliahan Pak Habibie yang saat itu sedang menempuh pendidikan di Universitas RWTH Aachen, Jerman. Film Rudy Habibie merupakan film yang digarap oleh sutradara Hanung Bramantyo. Film ini dirilis pada 2016 dengan mengadaptasi dari novel semi-biografi karya Gina S. Noer yang berjudul Rudy Kisah Masa Muda Sang Visioner. Baca juga Review Film Rudy Habibie, Kisah Hidup dan Asmara Habibie Sebelum Bertemu Ainun Sinopsis Film Rudy Habibie Rudy Reza Rahardian memulai menempuh pendidikan di Universitas RWTH karena mendapatkan beasiswa. Di sana, Ia belajar tentang ilmu konstruksi pesawat terbang. Selama berkuliah, Rudy bertemu dengan Lim Keng Kie Ernest Prakarsa, Ayu Indah Permatasari, Poltak Boris Bokir, hingga Peter Pandji Pragiwaksono. Di sinilah juga Ia bertemu dengan Ilona Ianovska Chelsea Islan, gadis keturunan Polandia. Jauh sebelum pertemuannya dengan Ainun, Rudy lebih dulu jatuh cinta kepada Ilona. Cinta segitiga kemudian muncul saat Rudy mengetahui bahwa Ayu memiliki perasaan terhadapnya. Rudy yang sibuk dengan kegiatan organisasi kampusnya, sering membuat dirinya lupa dengan Ilona. Kesibukannya inilah juga yang membuatnya sakit-sakitan dan membuat Ilona meninggalkannya. Cobaan dirinya yang harus ditinggalkan Ilona, membawanya kepada tantangan yang baru. Rudy dipanggil oleh Indonesia untuk mengabdi pada Tanah Air yang saat itu usia kemerdekan baru seumur jagung. Baca juga Sinopsis Film Kartini, Kisah Perjuangan Perempuan, Budaya dan Keluarga Setelah membaca sinopsis film Rudy Habibie, kamu akan membayangkan kemana arah alur cerita akan berlangsung. Melalui film ini, kamu bukan hanya diajak untuk mengetahui kehidupan Pak Habibie saat masa muda, tapi kamu juga akan diajak untuk mengetahui dan merasakan bahwa hidup di negeri orang bukanlah perkara yang mudah. Pemain Film Rudy Habibie Reza Rahadian sebagai Rudy Habibie Bacharuddin Jusuf Habibie mudaBima Azriel sebagai Rudy Habibie kecilBastian Bintang Simbolon sebagai Rudy Habibie remajaChelsea Islan sebagai Illona IanovskaErnest Prakasa sebagai Liem Keng KieIndah Permatasari sebagai Ayu PuspitasariPandji Pragiwaksono sebagai Peter ManumasaBoris Bokir sebagai Poltak HasibuanMillane Fernandez sebagai SofiaCornelio Sunny sebagai PancaPaundrakarna sebagai MarioVerdi Solaiman sebagai Y. B. Mangunwijaya Romo MangunDian Nitami sebagai Tuti Marini Puspowardojo Baca juga Daftar Film Romantis Terpopuler dan Terbaper SemuaAdaDiVidio Nonton Rudy Habibie Full Movie di Vidio Sekarang kamu bisa nonton Rudy Habibie full movie di Vidio. Download aplikasi Vidio sekarang atau kunjungi melalui web browser kamu di Terhubung langsung dengan lebih dari 21 TV Streaming, Vidio juga menyajikan ribuan konten lokal maupun Internasional. Aktifkan Vidio Premier Platinum sekarang agar untuk bisa nonton serial TV, drama, film dokumenter, hingga Vidio Original Series eksklusif hanya di Vidio. Jangan lupa untuk selalu cek Blog Vidio supaya kamu nggak ketinggalan promo Vidio Premier Platinum! Temukan juga informasi mengenai rekomendasi film, drama terbaik, sinopsis, fakta-fakta menarik, hingga jadwal olahraga seperti La Liga, BWF, F1, Motogp, dan lainnya karena SemuaAdaDiVidio! Isyhari Maheswar -what you think, you become-
Film ini memang sekuel dari film Habibie & Ainun 2012, sehingga memiliki judul alias “Habibie & Ainun 2”. Digarap oleh rumah produksi berdana besar dan berpengalaman panjang yaitu MD Pictures dengan produser Manoj Punjabi, penonton bisa berharap tontonan yang menarik. Sebagai seorang kritikus film independen tanpa bayaran, saya tentu mengharapkan lebih. Karena ini film biografi dengan latar sejarah, satu yang saya soroti adalah bagaimana sutradara dan seluruh crew film menampilkan keakuratan detail di layar perak. Dan, dengan melihat sekali saat tayang perdana untuk umum di bioskop Kamis 30/6 kemarin, sedikit-banyak saya cukup terpuaskan. Walau, tetap saja, tak ada gading yang tak retak. OK. Kita mulai saja ulasannya. Untuk menonton film ini, diharapkan Anda sudah menyaksikan sekuel film pertamanya,Habibie & Ainun 2012. Karena ada beberapa bagian yang sangat terkait dengan film itu. Tetapi bila tidak pun, sebenarnya tidak masalah. Hanya saja, karena bagi orang Indonesia sosok Prof. Dr. Ing. Bacharudin Jusuf Habibie begitu terkenal, cerita dan karakter di film ini terasa asing karena memang tak tampil di kehidupan sang presiden ketiga negara kita itu. Karakter utama film ini tentu saja Rudy Habibie, yang masih menempuh studi S-1-nya di Jerman, tepatnya di RWTH Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule di kota Aachen. Bila di film pertama dikisahkan saat ia menempuh studi doktoral hingga jadi Presiden, maka berarti film ini bisa dibilang prekuel dari serial pertamanya. Satu hal kecil namun terasa mengganggu bagi penonton dengan detail seperti saya adalah ketiadaan penjelasan waktu terjadinya peristiwa. Pada tulisan di layar, hanya ada tulisan nama kota. Padahal, bukan hal sulit mencantumkan tambahan “Aachen-Jerman, awal 1960” misalnya. Ini akan terasa mengganggu ketika ada tokoh historis Bung Karno dimunculkan di layar. Padahal kita tahu, Habibie justru adalah pendukung utama Soeharto, presiden kedua Indonesia yang menggulingkan sang proklamator. Konflik ini akan muncul di seperempat akhir film. Tapi marilah kembali fokus ke cerita, yang tampaknya diinginkan pihak produser dan sutradara agar penonton terbuai di sana. Kisah dimulai saat Rudy kecil dan adiknya Fanny sedang bermain bersama teman-temannya di Pare-pare. Mereka melihat empat pesawat milik tentara Dai Nippon sedang membom pelabuhan. Habibie nyaris terjatuh dari tebing karena selain asyik, juga terkejut ternyata pesawat yang disenanginya malah melakukan hal jahat. Sementara di rumahnya, ibu mereka Dian Nitami –yang dipanggil mami- memutuskan mengungsi. Padahal ayah dan kedua anak lelakinya itu belum pulang. Rudy bertemu ibu dan keluarganya di jalan, tapi ia kembali ke rumah karena tak mau meninggalkan buku dan pesawat model mainannya yang disebut “Meccano”. Saat tiba di rumah, tak lama sang ayah pun pulang mendapati rumah sudah berantakan. Ia memaksa kedua anaknya untuk segera pergi walau Rudy belum sempat menyelesaikan berkemasnya. Kisah masa kecil Rudy inilah yang kemudian di sepanjang film menjadi semacam jangkar bagi Rudy muda yang tengah menempuh pendidikan jauh di negeri orang. Kisah lantas beralih ke saat Rudy menempuh pendidikan strata satu di Jerman. Ia termangu di depan sebuah gereja yang direkomendasikan dari tanah air. Seorang pastor yang keluar memperkenalkan namanya, dan meski ia orang Jerman, tapi ternyata fasih berbahasa Indonesia. Ternyata Pastor Gilbert itu adalah teman dari Romo Soegijapranata -Uskup Semarang- saat masih di seminari. Bersama sang pastor, Rudy mencari rumah yang mau menampung dirinya untuk indekost. Ternyata, profilnya dari negara bernama Indonesia yang tidak dikenal membuatnya sulit diterima. Dan itu bukan kesulitan pertamanya sebagai mahasiswa, walau ia digambarkan fasih berbahasa Jerman dan Belanda, yang merupakan bahasa serumpun, selain bahasa Inggris dan juga Prancis. Rudy yang kaku dan cenderung kuper ternyata ditaksir beberapa wanita karena kepintarannya. Di film ini digambarkan ia menjadi bintang di sebuah pesta yang diadakan oleh PPI Perhimpunan Pelajar Indonesia. Tetapi tentu saja romansa yang terjalin adalah antara Rudy dengan Ilona, dengan bumbu cinta tertolaknya Ayu. Detailnya tentu lebih nyaman bila disaksikan sendiri. Oh ya, karena kita tahu bahwa Habibie akhirnya menikah dengan Ainun, tentu bukan rahasia bila penonton bisa menebak bahwa kisah romansanya dengan Ilona juga pada akhirnya kandas. Dalam bagian-bagian berikutnya, saya lebih memilih membahas mengenai beberapa aspek dalam sinematografi daripada jalan ceritanya. Karena untuk hal ini, lebih terasa asyik bila menonton langsung filmnya di bioskop. Oh ya, ada “intipan” juga untuk sekuel ketiganya pasca film sebelum credit title. Sebuah gaya keren yang meniru model filmnya Marvel. Alur dan Teknik Penceritaan Rudy Habibie sedang mengikuti ujian masuk RWTH Foto MD Pictures Rudy Habibie sedang menempuh ujian masuk RWTH. foto MD Pictures Satu hal yang harus sangat diingat penonton, film ini fiktif berlatar historis. Hanya “based on inspiring true story” bukan “true story”. Diangkat dari buku berjudul Rudy Kisah Masa Muda Sang Visioner karya Gina S Noer. Beberapa karakter saya ragukan keaslian historisnya karena saya sama sekali tak membaca bukunya. Seperti karakter Ayu yang digambarkan sebagai “putri raja Solo” yang bahkan didampingi abdi dalem saat kuliah di Jerman. Apakah karakter ini benar ada? Berarti ia adalah salah satu putri “raja Solo”, walau tak jelas yang mana, apakah Kasunanan Surakarta atau Kadipaten Mangkunegaran? Bila karakter ini historis dan faktual, bukankah sama saja menyatakan putri sang raja tertolak cintanya oleh Habibie dan itu sedikit banyak mempermalukan harkat dan martabatnya? Patut dicatat saya menulis resensi ini dengan mengesampingkan wawancara dengan para pemain dan produser yang saya lihat di televisi. Juga ketiga karakter antagonis yang dikisahkan merupakan veteran dari “Laskar Pelajar” yang juga sedang belajar di RWTH. Apalagi mereka bertiga sampai menghajar Rudy secara fisik. Padahal seringkali mereka juga mem-bully-nya. Agak tidak masuk akal juga seorang di antaranya yaitu Panca Cornelio Sunny sampai membawa-bawa pistor Luger ke mana-mana. Walau tentu regulasi di Jerman bisa berbeda, agak aneh seorang WNA bisa bebas bersenjata api. Alur penceritaan film ini maju dengan beberapa kilas balik flash-back ke masa lalu Rudy kecil. Teknik penceritaannya adalah melalui “God’s eye” atau “angel’s eye” yang menunjukkan seolah kita melihat rekaman hidup Rudy dan para karakter di sekitarnya. Semacam reka ulang non-dokumenter dengan bumbu dramatisasi di sana-sini. Yah, soal dramatisasi ini saya merasakan aroma “lebay” di beberapa scene. Pertama adalah adegan saat Rudy masih kecil. Adegan ini bahkan dua kali diulang sebagai kilasan memori. Itu adalah adegan saat pengungsi tampak berjongkok sambil menutup telinga di sebuah lapangan, sementara di latar belakang mereka tampak ada ledakan dari bom yang dijatuhkan pesawat. Duh, adegan berteriak sambil berjongkok dan menutup telinga itu terlihat sekali diaturnya. Tidak alami. Kedua adalah saat Alwi Abdul Jalil Habibie Donny Damara ayah Rudy Habibie meninggal dunia saat sedang menjadi imam shalat. Luar biasa khusnul khatimah-nya. Apalagi ditambah adegan slow-motion para anggota keluarga yang menangis, tentu saja untuk memancing penonton ikut menangis terharu. Pemain dan Karakter Ilona dan Rudy Foto MD Pictures yang dimuat Ilona dan Rudy Foto MD Pictures yang dimuat Mengenai para pemain, saya terutama memuji penampilan Chelsea Islan sebagai Illona Ianovska, yang mampu mengimbangi pasangan mainnya yang lebih senior Reza Rahadian sebagai Rudy Habibie. Hanya satu kekurangan, teknologi perfilman kita belum mampu membuat tokoh seperti Dwarf di trilogy film The Lord of The Ring dan The Hobbit. Sehingga Rudy di film sama jangkungnya dengan pemerannya, dan jelas lebih tinggi daripada Rudy historis yang masih hidup. Tak heran terlihat ada satu adegan di taman dimana Chelsea mengenakan sepatu berhak tebal demi mengimbangi ketinggian fisik pasangan mainnya itu. But, after all, dengan kepiawaian acting keduanya, soal kekurangan penampilan fisik tertutupi dengan baik. Satu pemain lagi yang mampu mencuri hati saya adalah Indah Permatasari yang memerankan Ayu. Ia mampu tampil kenes dan menggemaskan, sesuai karakter putri Solo yang diperankannya. Padahal ia baru berusia 18 tahun lho. Kelemahan pemilihan pemain justru tampak dari pemain pendukungnya. Saya sangat mempertanyakan pemilihan tiga komika stand-up comedian di film ini, yaitu Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa dan Boris Bokir. Padahal, peran mereka serius. Hanya karakter milik Boris yaitu Poltak Hasibuan yang agak kocak, lainnya tidak. Kerancuan ini nampak jelas karena saat Ernest pertama kali muncul, banyak alay yang menonton di bioskop bersama saya tertawa. Sementara Pandji rupanya agak kurang dikenali para alay dan mampu tampil cukup perform dengan perannya sebagai Peter, senior Rudy. Selain mereka bertiga, riasan Dian Nitami sebagai ibunda Rudy Tuti Marini Puspowardojo, agak kurang pas. Masih terlihat terlalu muda. Walau jujur, saya tak tahu berapa tepatnya usia Mami Rudy di masa Rudy masih seusia anak sekolah dasar. Tapi di hati kecil saya berharap kemunculan pemain seusia Christine Hakim untuk memerankannya. Namun setelah saya pikir, seharusnya usia maminya Rudy masih sekitar 30-40-an tahun saat itu, karena “orang zaman doeloe” banyak yang menikah muda. Maka, riasan dengan rambut beruban justru terlalu berlebihan. Sementara karakter ayah Rudy tampil cukup kuat walau hanya sebentar saja durasinya. Property, Wardrobe dan Detail Lain Karakter dari kiri ke kanan Peter, Liem Keng Kie, Rudy, Mami Habibie, Ayu, Poltak Sumber foto Karakter dari kiri ke kanan Peter, Liem Keng Kie, Rudy, Mami Habibie, Ayu, Poltak Sumber foto Saya memilh tak menterjemahkan kedua istilah perfilman itu dari bahasa Inggris, walau ada padanannya yaitu “perlengkapan” dan “busana”, tetapi terasa kurang pas. Karena ada konotasi atau rasa bahasa yang terasa kurang dari terjemahannya. Satu kelemahan fatal dari wardrobe adalah busana Bung Karno. Well, digambarkan Bung Karno pernah mengunjungi Jerman. Pakaian sang Bung Besar digambarkan di film begitu kedodoran dan tak pas di badan. Jahitannya pun tak rapi. Saya agak heran dengan kelemahan detail itu. Padahal, Bung Karno terkenal dandy dan trendy. Agak sulit dipercaya pakaian jas yang dikenakan seorang presiden seberantakan itu. Demikian pula ia tampil polos dengan jas putih saja, tanpa mengenakan atribut kemiliteran sebagai Pangti ABRI/KOTI sama sekali. Padahal, dari foto-foto sejarah, kita tahu Bung Karno selalu tampil sebagai panglima militer tertinggi lengkap dengan beragam tanda jasa di dadanya, terkadang malah dilengkapi bintang lima di pundaknya. Karakternya memang cuma sepintas tampil saja, walau malah disayangkan wajahnya yang jelas tak mirip sempat tampil. Padahal justru pengambilan gambar dari punggung dan hanya tangan saja lebih pas. Selain itu, secara umum wardrobe cukup teliti dalam memotret busana era 1960-an. Walau begitu, detail lain saya puji, yaitu artikel di koran Jerman tentang kedatangan Soekarno di sana. Walau tentu untuk era digital printing seperti ini tak sulit membuatnya, beda kasus bila film ini dibuat 20 tahun lalu misalnya. Terakhir, yang amat saya sayangkan, keberpihakan pembuat film ini –entah disengaja atau tidak- pada rezim Orde Baru-nya Soeharto teramat sangat terasa. Koran yang memuat berita soal Soekarno tadi misalnya, cuma dijadikan alas shalat darurat oleh Rudy, yang setelahnya jelas Rudy membuangnya begitu saja. Demikian pula di seperempat terakhir film terasa sekali nuansa anti-Soekarno digambarkan di sana. Tokoh antagonis pun disebut dari “Laskar Pelajar”, yang jelas terlalu dekat penamaannya dengan kesatuan historis “Tentara Pelajar”. Dan pertentangan terhadap penyelenggaraan Seminar Pembangunan kontra Front Nasional merupakan penggambaran yang terlalu telanjang terhadap suasana pro-kontra Soekarno dan rezim Orde Lama. Oh ya, penamaan Orde Lama dan Orde Baru pun sebenarnya bias, karena diciptakan oleh rezimnya Soeharto. Rudy pun digambarkan berani bicara keras –bahkan sambil menudingkan telunjuk tangan- kepada Bung Karno, satu hal yang terasa mustahil benar terjadi. Bung Karno memang dikenal dekat dengan rakyat hingga siapa saja bahkan bisa masuk istana saat ia menjabat. Tapi, di era 1960-an usai ia diangkat jadi Presiden Seumur Hidup oleh MPRS pada 15 Mei 1963, posisinya sudah begitu absolut dan membuat orang takut. Tidak mungkin seorang mahasiswa –apalagi sesantun Habibie muda- berani menudingkan telunjuk kepada presiden. Apalagi Habibie digambarkan selain santun juga sangat menghormati orang yang lebih tua. Bagaimana pun, Bung Karno adalah orang tua yang kebetulan diamanatkan sebagai presiden kita saat itu. Mengenai property, pemilihan lokasi sangat cermat. Penggambaran setting di Indonesia, Jerman dan Chekoslovakia bagus. Penonton akan dibawa ke suasana Jerman di masa 1960-an. Walau sekarang banyak kota di Jerman sudah banyak berubah, menemukan lokasi yang tepat tentu sebuah tantangan tersendiri. Detail kecil seperti kotak telepon umum serta telepon yang nomornya diputar tentu juga merupakan sebuah kerja yang tidak mudah dari tim yang bertugas. Dan ini saya pujikan telah dikerjakan dengan baik. Detail lain adalah pada bahasa. Saya memuji penggunaan bahasa Jerman yang cermat dan tanpa kesalahan tata bahasa. Kebetulan saya cukup menguasai walau mungkin tak sefasih Habibie. Dalam film, tantangan terberat ada pada karakter Ilona, seorang Polandia yang mampu berbahasa Jerman, Inggris bahkan bahasa Indonesia. Dan luar biasanya, Chelsea Islan bahkan mampu memerankannya dengan sangat baik sampai saya lupa dia orang Indonesia! Pesan & Hikmah Bagi Penonton Seusai menonton film ini, penonton tentu diharapkan terinspirasi dari perjuangan Habibie muda. Nama Habibie sendiri sebenarnya nama keluarga, tapi kita memang mengenal Bacharudin Jusuf Habibie sebagai Habibie saja, walau ada banyak Habibie lain di keluarga beliau. Penggambaran film biografi –sebagaimana juga buku biografi- yang dilakukan dengan supervisi pemilik riwayat hidup terkait, memang sulit untuk obyektif. Hampir pasti yang ditonjolkan adalah sisi-sisi positifnya saja. Kecil kemungkinan ada cacat dan cela yang ditampilkan. Walau masih lebih baik biografi dengan supervisi daripada otobiografi. Namun, tentu yang paling obyektif adalah biografi yang ditulis ahli tanpa supervisi. Jadi, harus dimaklumi bila sebagian besar cerita semata adalah hal positif. Secara pribadi, saya terinspirasi oleh Rudy Habibie muda yang menghadapi tantangan tidak ringan dalam studinya. Habibie yang berkali-kali mengatakan “saya gagal” pun saya alami. Karena sebagai sesama perfeksionis, kegagalan adalah hal yang paling ditakuti. Dan Rudy Habibie muda ternyata juga sulit memperoleh teman yang percaya pada visinya. Bagaimana pun, film ini bagus untuk edukasi, terutama bagi generasi muda. Dan di hari perdana penayangan untuk umum kemarin, kursi bioskop terisi penuh. Bisa jadi target “angka sakral” 1 juta penonton bisa ditembus film ini, seperti halnya telah sukses dilakukan sekuel film pertamanya. Pada akhirnya, kerja keras crew film yang dipimpin Hanung Bramantyo sebagai sutradara harus diberikan apresiasi tinggi. Proficiat! Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana
Lanjut ke konten A. Data Film Judul Film RUDY HABIBIE HABIBIE & AINUN 2 Sutradara Hanung Bramantyo Produser Manoj Punjabi Pemeran 1. Reza Rahadian sebagai Rudy Habibie 2. Chelsea Islan 3. Indah Permatasari 4. Ernest Prakasa 5. Boris Bokir 6. Cakra Khan 7. Verdi Solaiman 8. Donny Damara 9. Dian Nitami 10. Pandji Pragiwaksono Negara Indonesia Tanggal Rilis 25 Juni 2016 B. Sinopsis Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih akrab disebut dengan nama Rudy Habibie adalah seorang anak dari keluarga sederhana yang mempunyai cita-cita ingin membuat pesawat dan merupakan wasiat dari ayahnya untuk menjadi manfaat bagi orang lain. Namun untuk mencapai cita-citanya itu memang sulit mulai dari keuangan, waktu, dan lain-lain. Tapi Rudi bersikeras dan ia dikuliahkan di RWTH Ancheen, Jerman Barat. Selama berkuliah, Rudy adalah mahasiswa terbaik di universitasnya hingga ia langsung loncat dari semester satu ke semester tiga. Hingga suatu ketika, Rudy dikenalkan kepada organisasi pelajar indonesia yang berada di seluruh Eropa dan belum lama ia masuk kedalam organisasi tersebut, ia menjadi ketua umum PPI dan langsung merencanakan Seminar Pembangunan Industri Dirgantara yang bertujuan untuk membangun integritas bangsa. Karena mennurutnya, Buat apa merdeka kalau tidak punya integritas. Banyak sekali halangan dan rintangan yang Rudy hadapi demi mewujudkan proyeknya. Tetapi, Rudy selalu ditemani oleh Ilona, seorang wanita berdarah Jerman yang menyukai apa-apa yang berhubungan dengan Indonesia. Dan mereka menjadi pasangan yang serasi dan kompak melalui itu semua. Tapi, di akhir cerita hubungan mereka harus berakhir karena Rudy telah besumpah ketika ia dirawat di Rumah sakit bahwa ia akan selalu mencintai Ibu Pertiwi Indonesia. Iapun melanjutkan proyeknya dan akhirnya berhasil membangun Industri Dirgantara untuk integritas Indonesia. C. Kelebihan Dalam film ini, banyak sekali nnilai yang dapat kita pelajari diantaranya 1. Kita diajarkan untuk menjadi mata air. Apabila air itu jernih, maka di sekitarnyapun akan terbawa bersih. Tapi apabila air itu keruh, maka disekitarnyapun akan mennjadi keruh. 2. Kita diajarkan untuk tetap tegar menghadapi cobaan dan rintangan yang dihadapi. 3. Kita diajarkan agar selalu memperjuangkan sesuatu yang menurut kita berguna bagi banyak orang. 4. Kita diajarkan agar selalu cinta kepada NKRI. D. Kekurangan 1. Di dalam film ini dijelaskan bahwa Rudy habibie tidak suka diganggu oleh orang asing. Dengan kata lain, Rudi habibie dalam sosialisasi kepada orang asing sangat kurang. Padahal sosialisasi merupakan salahsatu kunci untuk membangun kerjasama dan ketentraman hidup di negara orang. 2. Di dalam film ini menampakan beberapa kali Rudy berputus asa dan ingin kembali ke Indonesia dengan posisi gagal. E. Penilaian Film ini sangat disarankan untuk ditonton. Karena banyak sekali pelajaran positif yang terkandung didalamnya. Dimulai dari persahabatan, percintaan, sosial, keadilan, dan kecintaan terhadap Ibu Pertiwi terkandung di dalm film ini. Semoga dengan film ini menjadi salah satu motivasi untuk menambah kualitas hidup kita sehingga tidak menjadi manusia yang hanya begitu saja tanpa ada aksi dan relasi. Navigasi pos
RESENSI FILM “RUDY HABIBIE” Judul Rudy Habibie Sutradara Hanung Bramantyo Produser Manoj Punjabi Tanggal rilis 30 Juni 2016 Durasi 2 jam 22 menit Genre Roman/drama Pemain Reza Rahardian sebagai Rudy Habibie Chelsea Islan sebagai Illona Ianovska Dian Nitami sebagai Tuti Marini Puspowardojo Indah Permatasari sebagai Ayu Ernest Prakasa sebagai Liem Keng Kie Boris Bokir sebagai Poltak Cornelio Sunny sebagai Panca Pandju Pragiwaksono sebagai Peter Manumasa Verdi Solaiman sebagai Romo Mangunwijaya Bastian Bintang Simbolon sebagai Rudy Habibie remaja Distributor MD Pictures Ringkasan Film ini merupakan prequel dari Film Habibie dan Ainun. Film ini menceritakan tentang perjalanan seorang Bacharuddin Jusuf Habibie Reza Rahardian yang berasal dari keluarga sederhana. Namun dengan segala rintangan, ia dan keluarganya bersikeras agar ia bisa terus berkuliah di RWTH, Aachen. Di RWTH, Rudy bertemu dengan teman-temannya Ernest Prakasa, Boris Bokir, Dian Nitami, Pandji Pragiwaksono yang juga pelajar di Jerman. Mereka berjuang untuk mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan Perhimpunan Pelajar Indonesia cabang Aachen. Perjuangan mereka tidak mudah karena banyak perbagai persoalan termasuk cekalan dari kubu lawan Cornelio Sunny, perbedaan pendapat, dan keadaan ekonomi. Hingga akhirnya Rudy menjadi ketua PPI Aachen dengan visi memajukan integritas bangsa dan misi menyelenggarakan seminar pembangunan dan membangun industri dirgantara. Film ini tak hanya menceritakan tentang kehidupan organisasi Rudy Habibie di masa muda, tetapi juga menceritakan tentang kisah cintanya sebelum dengan Ainun, yaitu Ilona Chelsea Islan. Perempuan asal Polandia ini menemani perjalanan Rudy selama di Aachen walaupun pada akhirnya mereka tidak bisa bersama karena perbedaan kepercayaan dan Rudy berikrar untuk mengabdi kepada Indonesia. Kelebihan Film ini mengemas kisah Habibie secara simpel dan tidak membosankan. Cinematography dan suarannya membuat para penonton ikut tergugah dengan suasana yang disuguhkan. Pemilihan actor dan aktris yang cukup pas. Mengandung berbagai bahasa dan disertai terjemahan. Cocok untuk semua umur terutama untuk anak muda sehingga semua orang bisa memahami sejarah dengan cara yang asyik. Kekurangan Terlalu banyak percakapan dan cukup dramatis. Kurang menggambarkan kondisi Indonesia pada masa Rudy Habibie kuliah. Terlalu banyak menunjukan sisi saat Rudy Habibie menyerah. Alur yang menceritakan PPI dan seminar pembangunan terlalu cepat. A proudly part of Atrivics Foterina Candradika Regarda, MAN Insan Cendekia Serpong. View more posts Post navigation
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Akhir Perjuangan Manis Si Gula JawaJudul Film Habibie & Ainun 3 Genre Drama, Romantis, Sejarah Durasi 121 menitSutradara Hanung BramantyoRating RMulai Tayang 19 Desember 2019 Ada ekspektasi yang membumbung tinggi terhadap film Habibie & Ainun 3. Apalagi saat tahu sutradaranya adalah Hanung Bramantyo. Karna Hanung pernah terpilih sebagai Sutradara Terbaik lewat film arahannya yaitu film Brownies, pada Festival Film Indonesia 2005. Dan pada Festival Film Indonesia 2007 ia kembali menyabet penghargaan Sutradara Terbaik melalui filmnya Get Married. Ekspektasi yang sangat tinngi juga ketika mengetahui pemain-pemain film nya adalah aktor dan aktris ternama Indonesia. Yaitu, Reza Rahardian sebagai Rudy, Maudy Ayunda sebagai Ainun, Jefri Nichol berperan sebagai Ahmad, dan beberapa aktor dan aktris film Habibie & Ainun 3, diangkat dari kisah nyata perjalanan cinta seorang Rudy Habibie dan Ainun Besari yang merupakan tokoh utama dalam film ini. Tidak seperti 2 film sebelumnya yaitu Habibie & Ainun 1 maupun Habibie & Ainun 2, film ini justru lebih banyak menceritakan bahkan hanya terfokuskan kepada sosok ibu Ainun dan perjalanannya dalam meraih impiannya untuk menjadi seorang Dokter. 1 2 3 Lihat Film Selengkapnya
kelebihan dan kekurangan film rudy habibie